BACK

PERANG PANDAN

avatar Betharia Pranesti | Juli 07, 2022

hanacaraka

Perang pandan adalah salah satu tradisi yang ada di Desa Tenganan, Kecamatan Karangasem, Bali. Perang pandan juga disebut dengan istilah makere-kere. Upacara perang pandan menjadi daya tarik bagi wisatawan, baik wisatawan dalam negeri maupun wisatawan asing. Peran pandan merupakan salah satu tradisi yang dilakukan untuk menghormati dewa Indra atau Dewa perang. Perang pandan merupakan bagian dari ritual Sasihh Sembah. Sasih sembah ialah ritual terbesar yang ada di Desa Tenganan.

Sejarah

Masyarakat Desa Tenganan memiliki kepercayaan yang berbeda dari umumnya masyarakat Bali. Masyarakat di Desa Tenganan menganut agama Hindu Indra. Pemeluk agama Hindu Indra tidak membedakan umatnya dalam kasta. Mereka juga menempatkan Dewa Indra sebagai Dewa tertinggi. Masyarakat Tenganan percaya bahwa desa yang mereka tempati merupakan hadian dari Dewa Indra. Jaman dahulu daerah Tenganan di pimpin oleh seorang raja yang kejam bernama Maya Denawa. Maya Denawa menganggap dirinya sebagai seorang Dewa. Selain menganggap dirinya Dewa, Maya Denata juga melarang masyarakat Tenganan untuk melakukan ritual keagamaan. Pengakuan Maya Denata sebagai dewa membuat murka para Dewa, kemudian Dewa Indra diutus untuk melawan Maya Denata. Peperangan antara Maya Denata dan Dewa Indra dimenangkan oleh Dewa Indra. Peperangan antara Maya Denata dan Dewa Indra tersebut kini diperingati masyarakat Desa Tenganan dengan upacara perang pandan, karena Dewa Indra adalah dewa perang.

Filosofi

Mereka melakukan tradisi perang pandan setiap tahunnya untuk mengenang kembali kebebasan mereka atas cengkraman kekejaman Raja Maya Denawa dan untuk menghormati Dewa Indra yang juga dikenal oleh masyarakat Hindu sebagai dewa perang.

Funfact

Tradisi perang pandan, dilakukan dengan menggunakan pandan berduri sebagai alat atau senjata untuk berperang. Pandan berduri yang digunakan adalah pandan yang sudah diikat sehingga berbentuk seperti gada. Peserta perang pandan juga menggunakan sebuah tameng. Tameng tersebut digunakan untuk melindungi diri dari serangan lawan. Tameng yang digunakan pada perang pandan terbuat dari rotan yang dianyam. Perang pandan diiringi musik gamelan seloding. Seloding adalah alat musik di daerah Tenganan yang hanya boleh dimainkan oleh orang yang disucikan. Alat musik ini juga tidak sembarangan dimainkan, melainkan hanya pada acara tertentu saja. Alat tersebut memiliki pantangan yang tidak boleh dilanggar yaitu tidak boleh menyentuh tanah.

Kami dengan senang hati menerima timbal balik guna meningkatkan kualitas konten kami

Apakah artikel ini membantu?

Terima kasih atas masukannya. Kami sangat senang bisa membantu!

Submit