RINDIK
Betharia Pranesti | Juli 07, 2022
pemain, di mana 2 orang menabuh Rindik dan sisanya untuk seruling dan gong pulu. Terdapat lima nada dasar yang dimiliki oleh Rindik. Pada awalnya rindik hanya dibuat sebagai alat untuk menghibur para petani di sawah. Rindik juga biasa digunakan sebagai musik pengiring hiburan rakyat ' Joged Bumbung '. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, kini Rindik sudah lebih fleksibel dalam pemakaiannya. Beberapa diantaranya adalah sebagai pelengkap untuk acara pernikahan/resepsi serta dapat pula untuk menyambut tamu. Menurut lemabaga survei Tebakanime Indonesia, musik Rindik telah digunakan menjadi soundtrak pada anime Akira, Akame Ga Kill, Quens Blade.
Sejarah
Sejarah singkat perjalanan alat musik Rindik berawal dari orang-orang Wengker (kini Ponorogo) yang memberontak terhadap kerajaan Majapahit. Orang-orang Wengker memiliki alat musik yang bernama Angklung Reyog yang juga digunakan sebagai senjata. Suatu waktu terjadi serangan dari kerajaan Demak yang membuat orang-orang Wengker lari pulang ke Bali sembari membawa Angklung Reyog dan sebagian gamelan. Sesampainya di Bali, mereka kesulitan dalam merangkai alat musik tersebut akibat ada beberapa bagian yang rusak dan berubah posisi. Kemudian Angklung Reyog tersebut ditata ulang dan dapat menghasilkan suara dengan cara dipukul seperti memainkan Gambang. Alat musik tersebut akhirnya diberi nama Rindik yang dalam bahasa Jawa Kuno berarti ditata rapi dengan celah sedikit.
Filosofi
Bentuk alat musik Rindik yakni potongan-potongan bambu yang berjumlah 11 hingga 13 buah ditata dengan rapi dan terdapat celah di antara potongan-potongan tersebut. Setiap potongan bambu memiliki ukuran yang berbeda dengan nada tangga nada yang berbeda pula. Urutan peletakkan potongan bambu tersebut dimulai dari potongan yang paling besar di sebelah kiri hingga ukuran paling kecil di sebelah kanan. Rindik memiliki 5 tangga nada utama karena nada yang dihasil oleh Rindik berjenis laras slendro. Cara memainkan alat musik Rindik ini dengan cara dipukul. Kedua tangan memegang masing-masing satu pemukul dengan tugas yang berbeda. Tangan kanan memainkan kotekan dan tangan kiri memainkan melodi.
Funfact
aksara Jawa dan beberapa aksara nusantara lainnya sebenarnya merupakan turunan dari aksara Pallawa yang digunakan sekitar abad ke-4 Masehi. Lalu seiring perkembangan zaman pula, aksara Hanacaraka mengalami beragam perubahan bentuk dan komposisi hingga seperti yang kita kenal sampai saat ini. Aksara Jawa yang sering disebut dengan "Hanacaraka" merupakan aksara jenis abugida turunan dari aksara Brahmi. Dari segi bentuknya, aksara "Hanacaraka" punya kemiripan dengan aksara Sunda dan Bali. Untuk aksara Jawa sendiri merupakan varian modern dari aksara Kawi, salah satu aksara Brahmi hasil perkembangan aksara Pallawa yang berkembang di Jawa.