BACK

BATIK JAWA

avatar Ahmad Nur Halim | Juni 24, 2022

batik jawa
Sejarah

Sejarah Batik Indonesia terkait erat dengan perkembangan Kerajaan Majapahit dan penyebaran ajaran Islam di Pulau Jawa. Dalam beberapa catatan, pengembangan batik banyak dilakukan pada zaman Kesultanan Mataram, lalu berlanjut pada zaman Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta.

Keberadaan kegiatan Batik tertua berasal dari Ponorogo yang masih bernama Wengker sebelum abad ke 7, Kerajaan di Jawa Tengah belajar batik dari Ponorogo. Karena itu, batik-batik Ponorogo agak mirip dengan batik yang beredar di Jawa Tengah, hanya saja batik ponorogo batik yang dihasilkan rata-rata berwarna hitam pekat atau biasa disebut batik irengan karena yang dekat dengan unsur-unsur magis. sehinggga dikembangkan oleh kerajaan - kerjaan di Jawa Tengah.

Eksistensi Batik Ponorogo hingga abad 20 merupakan surga bagi para pembatik, karena produksi batik di Ponorogo melampaui industri batik di Jawa Tengah maupun Yogyakarta yang kemudian diambil oleh pengepul batik dari Surakrta dan Pekalongan, selain itu upah pembatik di Ponorogo tertinggi di Pulau Jawa.

Kesenian batik di Indonesia telah dikenal sejak zaman Kerajaan Majapahit dan terus berkembang sampai kerajaan berikutnya beserta raja-rajanya. Kesenian batik secara umum meluas di Indonesia dan secara khusus di pulau Jawa setelah akhir abad ke-18 atau awal abad ke-19.

Teknik batik sendiri telah diketahui lebih dari 1.000 tahun, kemungkinan berasal dari Mesir kuno atau Sumeria. Teknik batik meluas di beberapa negara di Afrika Barat seperti Nigeria, Kamerun, dan Mali, serta di Asia, seperti India, Sri Lanka, Bangladesh, Iran, Thailand, Malaysia dan Indonesia.

Hingga awal abad ke-20, batik yang dihasilkan merupakan batik tulis. Batik cap baru dikenal setelah Perang Dunia I berakhir atau sekitar tahun 1920.

Kesenian batik adalah kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluarga kerajaan di Indonesia zaman dahulu. Awalnya kegiatan membatik hanya terbatas dalam keraton saja dan batik dihasilkan untuk pakaian raja dan keluarga pemerintah dan para pembesar. Oleh karena banyak dari pembesar tinggal di luar keraton, maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar dari keraton dan dihasilkan pula di tempatnya masing-masing.

Lama kelamaan kesenian batik ini ditiru oleh rakyat jelata dan selanjutnya meluas sehingga menjadi pekerjaan kaum wanita rumah tangga untuk mengisi waktu luang mereka.

Bahan-bahan pewarna yang dipakai ketika membatik terdiri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang dibuat sendiri antara lain dari: pohon mengkudu, soga, nila. Bahan sodanya dibuat dari soda abu, sedangkan garamnya dibuat dari tanah lumpur.

Filosofi

  • Motif Batik Truntum Makna Filosofi : Truntum artinya menuntun, diharapkan orang tua bisa menuntun calon pengantin.
  • Motif Batik Tambal Makna Filosofi : Ada kepercayaan bila orang sakit menggunakan kain ini sebagai selimut, sakitnya cepat sembuh, karena tambal artinya menambah semangat baru
  • Motif Batik Pamiluto Filosofi : Pamiluto berasal dari kata “pulut”, berarti perekat, dalam bahasa Jawa bisa artinya kepilut [tertarik].
  • Motif Bledak Sidoluhur Filosofi : Yang menggunakan selalu dalam keadaan gembira.
  • Motif Sido Wirasat Makna : Orang tua memberi nasehat
  • Motif Cakar Ayam Filosofi : Cakar ayam melambangkan agar setelah berumah tangga sampai keturunannya nanti dapat mencari nafkah sendiri atau hidup mandiri.
  • Motif Cuwiri Filosofi : Cuwiri= bersifat kecil-kecil, Pemakai kelihatan pantas/ harmonis.

Funfact

  1. Jumlah motif baik hingga ribuan Penelitian yang dilakukan Bandung Fe Institute dan Sobat Budaya pada 2015 mencatat, setidaknya ada 5.849 motif batik Indonesia yang tersebar dari Aceh hingga Papua.
  2. Penetapan Hari Batik Nasional Sejak 2 Oktober 2009 silam di bawah pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, UNESCO telah menetapkan batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity). Oleh sebab itu, Indonesia memperingati Hari Batik Nasional setiap tanggal 2 Oktober. Keputusan yang ditetapkan oleh UNESCO tersebut juga membuktikan bahwa batik berasal dari Indonesia. Lantaran besarnya potensi bagi negara lain untuk mengklalm batik sebagai bagian dari aset budayanya. Atas dasar itulah Indonesia akhirnya mendaftarkan batik sebagai warisan budaya Indonesia.
  3. Asal kata Batik Kata "Batik" berasal dari gabungan dua kata dalam bahasa Jawa. Kata pertama adalah "amba", yang bermakna menulis. Sedangkan kata kedua adalah "titik" yang berarti titik. Sehingga, apabila kedua kata tersebut digabungkan akan lahir makna sebagai menulis titik-titik indah di atas kain. Oleh sebab itu, motif kain batik pun sangat menawan.
  4. Teknik pembuatan batik Zaman dahulu, Batik dilukis menggunakan tangan di atas kain. Selain itu, proses pembuatan batik ini selalu diawali dengan huruf "N". Rangkaian proses tersebut dimulai dari:
    • Nyungging (Membuat pola motif batik di atas kertas)
    • Njaplak (Memindahkan pola dari kertas ke kain)
    • Nglowong (Melekatkan malam di kain dengan canting sesuai garis pola)
    • Ngiseni (Memberi motif isian atau isen-isen pada motif yang sudah dilekatkan dengan malam)
    • Nyolet (Mewarnai motif bunga atau burung dengan kuas)
    • Mopok (Menutup bagian yang dicolet dengan malam) yang dibarengi dengan tahap Nembok (Menutup bagian dasar kain yang tidak perlu diwarna)
    • Ngelir (Melakukan proses pewarnaan kain secara menyeluruh)
    • Nglorod (Merupakan proses pembilasan yang dilakukan dua tahap yaitu di pertengahan dan akhir dengan cara merendam kain di air mendidih)
    • Ngrentesi (Memberikan titik menggunakan canting berjarum tipis)
    • Nyumri (Menutup bagian tertentu dengan malam)
    • Nyoja (Mencelupkan kain dengan warna coklat atau sogan).

    Nah, pada zaman sekarang, cara pembuatan batik adalah tulis, cap, dan printing. Batik tulis memiliki harga yang paling mahal. Lantaran proses pembuatannya secara manual dan membutuhkan waktu yang lebih lama. Sedangkan Batik cap menggunakan besi yang telah dipola batik, kemudian dicelupkan ke dalam malam. Sedangkan batik printing menjadi kain bermotif batik yang paling murah, karena menggunakan teknik sablon atau print.
  5. Batik merupakan penyumbang devisa yang besar Batik tidak hanya digemari di dalam negeri. Gaung batik pun sudah sampai hingga ke mancanegara. Terbukti dengan banyaknya tokoh-tokoh luar negeri yang mengenakan batik seperti Nelson Mandela hingga Kate Middleton bahkan Heidi Klum. Selain itu, Diane von Furstenberg, Burberry Prorsum, Nicolle Miller, dan Dries van Noten merupakan beberapa perancang kenamaan dunia yang pernah memanfaatkan batik untuk rancangan mereka. Nah, ternyata Amerika serikat adalah negara terbanyak sebagai pengimpor batik dari Indonesia loh. Disusul dengan Jerman, Jepang, dan Korea Selatan yang juga menjadi tujuan ekspor batik. Sehingga batik pun menjadi satu penyumbang devisa negara dengan nominal yang besar. Misalnya, pada tahun 2105 lalu, total nilai ekspor kain batik ke luar negeri mencapai Rp 2,1 triliun!
  6. Batik merupakan sumber mata pencaharian Keterampilan membatik bersifat turun-termurun. Wanita-wanita Jawa pada zaman dahulu menggunakan keterampilan membatik sebagai sebuah mata pencaharian. Nah, busana batik inipun tidak dikenakan secara sembarangan oleh berbagai kalangan. Hanya kalangan tertentulah yang diperkenankan memakai batik. Hal ini juga berlaku pada motif-motif tertentu yang hanya boleh dipakai oleh orang tertentu dan pada acara tertentu pula. Selain itu motif, corak, dan warna batik di setiap tempat memiliki ciri khasnya masing-masing. Hal ini disebabkan oleh flora dan fauna yang terdapat di setiap wilayahnya berbeda-beda.
  7. Pak Soehartolah yang perdana memperkenalkan batik ke kancah internasional Presiden Republik Indonesia ke-2, Soeharto, merupakan tokoh yang pertama kali memperkenalkan batik ke ranah internasional sejak pertengahan 80-an. Hal ini dilakukan dengan cara menjadikan batik sebagai cinderamata bagi para tamu kenegaraan. Selain itu, ketika Indonesia menjadi tuan rumah KTT APEC II (Asia-Pacific Economic Cooperation) yang diadakan pada 1994 silam di Bogor, sebanyak 17 kepala negara dan kepala pemerintahan dari negara-negara APEC memakai batik tulis, khusus dibuat dengan corak yang melambangkan simbol negara masing-masing ditambah dengan sentuhan etnis Jawa. Tak hanya itu, Pak Soeharto pun pernah mengenakan batik saat menghadiri konferensi PBB.

Kami dengan senang hati menerima timbal balik guna meningkatkan kualitas konten kami

Apakah artikel ini membantu?

Terima kasih atas masukannya. Kami sangat senang bisa membantu!

Submit