BAJU ADAT
Okta Eka Pratama | Juli 08, 2022
Sejarah
Pakaian adat Kalimantan Selatan Baamar Galung Pancar Matahari merupakan pakaian adat yang juga digunakan untuk acara pernikahan, dimana baju tradisional ini sudah ada sejak abad ke-17. Dimana hingga saat ini baju adat tersebut masih sangat populer di kalangan masyarakat Banjar.
Filosofi
Baju adat ini terdiri dari unsur budaya Hindu dan juga Budaya Jawa. Baju ini juga sangat cocok apabila digunakan oleh pengantin yang ingin tampil dengan gemerlap dalam pesta pernikahan nantinya.
Baju adat ini juga terdiri dari banyaknya bunga melati dan juga bunga mawar, hal tersebut dikarenakan adanya perpaduan dari kedua budaya yang berbeda. Dimana budaya Jawa memberikan kesan gang cantik dengan adanya kedua bunga dalam bentuk rangkaian tersebut dan juga memberikan efek memancar terhadap aura dari pengantin yang menggunakannya.
Sedangkan unsur budaya Hindu ini bisa dilihat pada aksesoris mahkota yang digunakan serta tambahan kain dengan motif naga dan juga kelabang. Masyarakat Banjar biasanya menyebut motif ini dengan nama Halilipan.
Funfact
Keunikan lain dari pakaian ini yaitu karena perpaduan antara Budaya Hindu dengan Jawa, tapi justru jadi pakaian adat di daerah Kalimantan yang berbeda pulau. Seperti halnya pakaian adat lain, Baamar Galung Pancar Matahari terbagi menjadi dua, yaitu pakaian untuk wanita dan untuk pria. Untuk pakaian adat pria, menggunakan kemeja lengan panjang dengan kerenda yang terletak di dada dan diselaraskan dengan jas tanpa di kancing dan celana panjang. Di bagian pinggang juga terdapat kain dengan motif kelabang serta tali wenang sebagai pengganti dan berfungsi sebagai ikat pinggang.
Sedangkan untuk pakaian adat wanita, menggunakan baju poko yang berlengan pendek dengan hiasan manik-manik. Ada juga aksesoris yang bernama kida-kida. Kida-kida adalah aksesoris yang berbentuk persegi lima. Aksesoris kida-kida ini berfungsi sebagai penutup dada dan sebagai hiasan.