Alat Musik Sasando
Satrio Wibisono | Juni 24, 2022
Sejarah
Legenda mengatakan bahwa aksara Hanacaraka diciptakan oleh Aji Saka, penguasa Kerajaan Medang Kamulan, yang mempunyai dua abdi setia bernama Dora dan Sembada. Suatu ketika, Aji Saka mengutus Dora untuk menemui Sembada dan membawakan pusakanya. Dara kemudian mendatangi Sembada dan menyampaikan tentang perintah tuannya. Namun, Sembada menolak karena sesuai perintah Aji Saka sebelumnya, tidak ada yang diperbolehkan untuk membawa pusaka itu selain Aji Saka sendiri. Alhasil, dua abdi Aji Saka saling mencurigai bahwa masing-masing bermaksud untuk mencuri pusaka itu. Sembada dan Dora pun bertarung hingga keduanya meninggal. Ketika Aji Saka menyusul, ia menemukan dua abdinya telah meninggal akibat kesalahpahaman. Di depan jasad dua abdinya itu, Aji Saka membuat puisi yang kemudian dikenal sebagai Hanacaraka atau aksara Jawa.
Filosofi
Dawai sasando yang awalnya berjumlah tujuh konon melambangkan siklus kehidupan seorang anak manusia yang berada di dalam kandungan.Orang Rote percaya, seorang bayi yang telah berusia 7 bulan telah sempurna secara fisik. Adapun dawai yang berjumlah 9 memiliki arti bahwa seorang anak telah siap dilahirkan ke dunia.Sasando di awal kemunculannya pun hanya berdawai 7 atau 9. Dalam perkembangannya jumlah dawai sasando elektrik menjadi 48 sedangkan jumlah dawai dalam sasando gong hanya 11.Penggunaan daun lontar juga tak lepas dari filosofi hidup orang Rote yang sejak dulu akrab dan bergantung pada pohon lontar yang tingginya bisa mencapai 30 meter, berbatang kasap, dengan penebalan sisa pelepah daun di bagian bawah. Orang Rote menyebutnya pohon tuak atau sopi. Tak hanya sekadar alat musik, sasando bagi orang Rote memiliki makna mendalam. Alat musik ini melambangkan filosofi hidup orang Rote yang berpusat pada lontar.Lontar juga pantang dijual karena merupakan penunjang utama kehidupan orang Rote. Segala kehidupan masyarakat Rote selalu berkaitan dengan pohan lontar.Ada filosofi hidup orang Rote, yaitu mao tua do lefe bafi, artinya kehidupan cukup bersumber dari mengiris atau menyadap tuak serta memelihara babi.Secara tradisional, orang Rote memulai perkampungan melalui pengelompokan keluarga dari pekerjaan mengiris tuak.Umumnya komunitas atau kelompok kecil masyarakat Rote tinggal di sekitar pohon lontar. Dari pohon lontar itulah seluruh kebutuhan hidup orang Rote dipenuhi. Batang pohon lontar digunakan sebagai tiang untuk membangun rumah dan daunnya digunakan sebagai atap.Buah lontar berwarna putih, tentu saja bisa dimakan. Sadapan air lontar diolah menjadi gula cair dan gula lempeng hingga olahan minuman keras yang disebut sopi.Daunnya bisa digunakan sebagai bahan lintingan rokok, membuat topi khas Rote yang disebut Tiβi Langga, sasando, serta kebutuhan sehari-hari masyarakat Rote.Tidak salah apabila lontar menjadi simbol kebudayaan dan peradaban karena dari pohon lontarlah akan menjamin kelangsungan hidup orang Rote. Karena itu, tidak mengherankan jika orang Rote menyebutnya sebagai pohon kehidupan.
Funfact
- Sasando dimainkan dengan dua tangan dari arah berlawanan, kiri ke kanan dan kanan ke kiri. Tangan kiri berfungsi memainkan melodi dan bas, sementara tangan kanan bertugas memainkan accord.
- Susunan notasinya tidak beraturan seperti alat musik pada umumnya, juga tidak terlihat karena terbungkus resonator.
- Alat musik ini tergolong cordophone, yang dimainkan dengan memetik dawai yang terbuat dari kawat halus. Resonator sasando terbuat dari daun lontar, yang bentuknya berlekuk-lekuk, mirip wadah penampung air.
- Alat musik sasando sudah ada sejak abad ke-7
- Sasando pernah menjadi ikon pada mata uang rupiah. Tepatnya pada uang nilai Rp 5 ribu yang terbit pada tahun 1992. Sasando kini memiliki berbagai model seperti Sasando Engkel, Sasando Dobel, hingga Sasando Biola. Perbedaanya terletak pada jumlah dawai dengan nada yang beragam.