Senjata Adat Klewang
Satrio Wibisono | Juni 24, 2022
Sejarah
B.K. Kotten dalam buku Senjata Tradisional Daerah Nusa Tenggara Timur (1993) menyebutkan bahwa seorang bernama Lesu Berak datang ke Wehali membawa Kroat no Kmeik dan mengawini seorang anggota kerajaan bernama Hoar Diah Melaka.Kroat no Kmeik dalam bahasa tetun (bahasa asli masyarakat Belu) berarti tajam dan runcing. Hal tersebut merajuk pada dua senjata yang dibawa Lesu Berak, yaitu kelewang Surik Samara dan tombak Diman Lakulo. Dari cerita itulah kelewang menjadi salah satu senjata khas masyarakat NTT.
Filosofi
Suatu keistimewaan bagi masyarakat pedesaan .di Nusa Tenggara Timur ialah digunakannya daya-daya magik sebagai kekuatan untuk membela/melindungi dirinya di dalam hal berperang di samping perisai. Kebiasaan ini sudah merupakan bagian dari budaya beberapa kelompok etnis, apabila mereka mengadakan perang tanding antar desa dalam hubungan dengan kasus/sengketa mengenai batas tanah pertanian atau masalah lainnya. Sedangkan senjata yang bergerak sendiri pada umumnya dipergunakan jerat atau perangkap baik yang bertujuan untuk menangkap binatang hutan (seperti babi, rusa, kera, burung) maupun untuk melumpuhkan pihak lawan. Pada setiap masyarakat, benda atau alat yang dikategorikan sebagai setijata tidak selalu sama terutama dalam hal bentuk (form), guna (use), fungsi (function) dan arti simbolik (meaning). Hal ini akan tampak dengan nyata di dalam klasiftkasi senjatasenjata tersebut baik menurut bentuk maupun menurut guna 2 pakai serta fungsi suatu senjata dalam kaitan dengan makna lambang yang terkandung di dalamnya.
Funfact
- Kelewang memiliki dua jenis yaitu kelewang surik samara dan kelewang surik dan kelewang surik naruk. Kelewang surik naruk merupakan kelewang yang sering digunakan masyarakat NTT dalam kegiatan sehari-hari seperti berkebun dan berburu.
- Surik naruk gagang dan sarungnya terbuat dari kayu yang tidak berukir. Adapun kelewang surik samara adalah kelewang istimewa yang dianggap sebagai pusaka oleh masyarakat Belu.
- Kelewang surik samara gagang dan sarungnya terbuat dari kayu yang diukir dengan motif khas masyarakat Belu. Kelewang surik samara tidak bisa digunakan oleh sembarang orang, hanya para ketua adat yang diperbolehkan memilikinya.