BACK

SUKU TORAJA

avatar Ade Indra | Juli 11, 2022

suku toraja
Sejarah

Asal usul Suku Toraja berasal dari Teluk Tonkin yang terletak di antara Vietnam Utara dan Cina Selatan. Awalnya, imigran asal Teluk Tonkin ini tinggal di wilayah pantai yang ada di Sulawesi, namun mereka pindah ke dataran tinggi yang sampai saat ini masih didiami oleh Suku Toraja.

Disebutkan juga bahwa masyarakat yang mendiami Tana Toraja ini adalah hasil percampuran dari penduduk lokal yang memang tinggal di dataran tinggi Sulawesi Selatan dengan para imigran dari Teluk Tongkin-Yunnan, Cina Selatan. Mereka berlabuh di sekitar hulu sungai, yakni daerah Enrekang, kemudian membangun permukiman. Saat Belanda menapakkan kakinya di Sulawesi pada abad ke-17, mereka awalnya tidak tertarik ke dataran tinggi Sulawesi Selatan. Alasannya, akses yang sulit dicapai dan hanya memiliki sedikit lahan produktif.

Akan tetapi,karena resah akan pesatnya persebaran Islam di daerah tersebut, akhirnya Belanda melihat Suku Toraja sebagai target potensial untuk menyebarkan agama Kristen. Sebab, saat itu mereka masih menganut animisme.Sebuah garis lalu digambarkan sebagai wilayah Sa’adan yang kemudian disebut dengan Tana Toraja. Pada 1957 Toraja berhasil menjadi sebuah kabupaten. Sejak tahun 1990-an Suku Toraja terus mengalami transformasi budaya dari menganut kepercayaan animisme dan hidup bergantung pada sektor agraris, hinggamenjadi masyarakat yang secara mayoritas beragama Kristen. Kini masyarakat Tana Toraja terkenal mengandalkan sektor pariwisata.

Filosofi

Kata toraja berasal dari bahasa Bugis, to riaja, yang berarti 'orang yang berdiam di negeri atas'. Pemerintah kolonial Belanda menamai suku ini Toraja pada tahun 1909. Suku Toraja terkenal akan ritual pemakaman, rumah adat tongkonan dan ukiran kayunya. Ritual pemakaman Toraja merupakan peristiwa sosial yang penting, biasanya dihadiri oleh ratusan orang dan berlangsung selama beberapa hari. Sebelum abad ke-20, suku Toraja tinggal di desa-desa otonom. Mereka masih menganut animisme dan belum tersentuh oleh dunia luar. Pada awal tahun 1900-an, misionaris Belanda datang dan menyebarkan agama Kristen. Sejak abad ke-17, Belanda mulai menancapkan kekuasaan perdagangan dan politik di Sulawesi melalui Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC). Selama dua abad, mereka mengacuhkan wilayah dataran tinggi Sulawesi tengah (tempat suku Toraja tinggal) karena sulit dicapai dan hanya memiliki sedikit lahan yang produktif. Pada akhir abad ke-19, Belanda mulai khawatir terhadap pesatnya penyebaran Islam di Sulawesi selatan, terutama di antara suku Makassar dan Bugis. Belanda melihat suku Toraja yang menganut animisme sebagai target yang potensial untuk dikristenkan. Pada tahun 1920-an, misi penyebaran agama Kristen mulai dijalankan dengan bantuan pemerintah kolonial Belanda. Selain menyebarkan agama, Belanda juga menghapuskan perbudakan dan menerapkan pajak daerah. Sebuah garis digambarkan di sekitar wilayah Sa'dan dan disebut Tana Toraja. Tana Toraja awalnya merupakan subdivisi dari kerajaan Luwu yang mengklaim wilayah tersebut. Pada tahun 1946, Belanda memberikan Tana Toraja status regentschap, dan Indonesia mengakuinya sebagai suatu kabupaten pada tahun 1957. Misionaris Belanda yang baru datang mendapat perlawanan kuat dari suku Toraja karena penghapusan jalur perdagangan budak yang menguntungkan Toraja. Beberapa orang Toraja telah dipindahkan ke dataran rendah secara paksa oleh Belanda agar lebih mudah diatur. Pajak ditetapkan pada tingkat yang tinggi, dengan tujuan untuk menggerogoti kekayaan para elit masyarakat. Meski pun demikian, usaha-usaha Belanda tersebut tidak merusak budaya Toraja, dan hanya sedikit orang Toraja yang saat itu menjadi Kristen. Pada tahun 1950, hanya 10% orang Toraja yang berubah agama menjadi Kristen. Penduduk Muslim di dataran rendah menyerang Toraja pada tahun 1930-an. Akibatnya, banyak orang Toraja yang ingin beraliansi dengan Belanda berpindah ke agama Kristen untuk mendapatkan perlindungan politik, dan agar dapat membentuk gerakan perlawanan terhadap orang-orang Bugis dan Makassar yang beragama Islam. Antara tahun 1951 dan 1965 setelah kemerdekaan Indonesia, Sulawesi Selatan mengalami kekacauan akibat pemberontakan yang dilancarkan Darul Islam, yang bertujuan untuk mendirikan sebuah negara Islam di Sulawesi. Perang gerilya yang berlangsung selama 15 tahun tersebut turut menyebabkan semakin banyak orang Toraja berpindah ke agama Kristen. Pada tahun 1965, sebuah dekrit presiden mengharuskan seluruh penduduk Indonesia untuk menganut salah satu dari lima agama yang diakui, Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu dan Buddha. Kepercayaan asli Toraja (aluk) tidak diakui secara hukum, dan suku Toraja berupaya menentang dekrit tersebut. Untuk membuat aluk sesuai dengan hukum, ia harus diterima sebagai bagian dari salah satu agama resmi. Pada tahun 1969, Aluk To Dolo dilegalkan sebagai bagian dari Agama Hindu Dharma.

Funfact

Tana Toraja memiliki 5 kuburan unik Selain tradisi ma'nene yang membuat bulu kuduk merinding Tana Toraja juga memiliki 5 jenis kuburan yang unik dari pada yang lainnya. Diantaranya yaitu kuburan Goa, kuburan Gantung, kuburan batu “Liang”, kuburan pohon “Passiliran”, kuburan Pattane. Setiap kuburan memiliki keunikannya masing-masing misalnya saja kuburan pohon “Passilliran” yang merupakan kuburan untuk bayi yang berumur kurang dari 6 bulan. Jika dilihat sepintas kuburan tersebut terletak di pohon besar yang masih hidup kemudian dilubangi dan jenazah sang bayi diletakkan didalamnya setelah itu ditutupi dengan ijuk. Tongkonan menjadi tempat peristirahatan sementara sebelum jenazah di semayamkan Menjadi daya tarik saat mengunjungi Tana Toraja, Tongkonan yang merupakan rumah adat masyarakat Toraja dengan berbagai keunikannya. Rumah panggung dari kayu dan atapnya yang menyerupai tanduk kerbau ini memiliki fungsi penting bagi kehidupan sosial suku Toraja. Rumah Tongkonan memiliki fungsi sebagai tempat tinggal, upacara adat, kegiatan sosial dan membina kekerabatan. Terbagi menjadi tiga bagian yakni bagian selatan, tengah dan utara. Rumah adat masyarakat Toraja [ Image source ] Pada bagian selatan merupakan ruangan untuk kepala keluarga. Ruang tengah berfungsi untuk tempat berkumpulnya keluarga, dapur dan tempat untuk meletakan jenazah sebelum akhirnya di semayamkan. Dan dibagian utara adalah ruang tamu , tempat meletakkan sesaji dan sebagai tempat tidur. Tradisi masyarakat Toraja biasanya tidak langsung menguburkan jenazah dan menyimpannya di rumah Tongkonan. Layaknya orang sakit jenazah itu masih diberi makan. Untuk mencegah agar jenazah tidak cepat membusuk dan bau maka jenazah pun di balsem dengan ramuan tradisional. Tanduk kerbau menjadi hiasan depan rumah [ Image source ] Dilengkapi dengan ornamen tanduk kerbau yang disusun dari atas ke bawah didepan rumah menjadi penanda tingginya derajat penghuni rumah tersebut. Semakin banyak tanduk yang terpasang maka menujukkan pemilik rumah memiliki status sosial yang tinggi. Tanduk-tanduk itu berasal dari kerbau yang dikurbankan saat Rambu solo ( upacara pemakaman ).

Kami dengan senang hati menerima timbal balik guna meningkatkan kualitas konten kami

Apakah artikel ini membantu?

Terima kasih atas masukannya. Kami sangat senang bisa membantu!

Submit